Verawaty Chandra mendirikan Chloe Learning Center yang berlokasi di Jalan Katamso Komplek Istana Prima Medan pada tahun 2014. (FOTO: HO)
UNIKA, VERITASUNIKA.COM – Sebuah ruangan di Bimbingan Belajar (Bimbel) Chloe Learning Center terlihat cukup sibuk. Lima siswa anak-anak usia 4-6 tahun yang didampingi tenaga pendidik (guru) sedang belajar membaca huruf. Seorang guru perempuan di salah satu sisi ruangan memperlihatkan sebuah kartu bertuliskan abjad dan membacanya. Kemudian si anak diminta membacanya.
Wajah si siswa terlihat ceria ketika guru menganggukkan kepala sebagai tanda huruf yang dibaca sudah benar. Guru tersenyum dan tak lupa menyisipkan pujian. Guru dan siswa mengangkat tangan bersamaan dan saling menempelkan telapak satu sama lain. Mereka tos. Guru kemudian melanjutkan ke kartu berikutnya dan melakukan praktik yang sama. Ketika siswa membaca dengan benar keduanya kembali melakukan tos. Terlihat begitu gembira.
Kegembiraan saat belajar ini merupakan salah satu suasana yang tergambar dari praktik belajar di Chloe Learning Center yang berlokasi di Jalan Katamso Komplek Istana Prima Medan. Sedikitpun tak terlihat rasa cemas apalagi ketakutan dari siswa saat mendapat pembelajaran dari guru.
Hal inilah yang menjadi ciri khas Chloe Learning Center yang didirikan Verawaty Chandra tahun 2014. Begitu masuk ke gedung Chloe Learning Center, anak akan disambut para pendidik dan staff layaknya orangtua menyambut siswa datang ke rumah. Hal yang sama juga berlaku di dalam kelas. Verawaty mengatakan, pendekatan pembelajaran yang menggunakan metodologi holistic learning dan has on activity membuat siswa nyaman saat belajar.
“Kami menyeleksi dengan ketat para pendidik sebelum mengajar di Chloe. Syarat pertama yang harus dipenuhi calon pendidik adalah mencintai pendidikan dan anak-anak. Tidak berbicara menggunakan kata-kata yang kasar dan tidak pantas,” kata Verawaty saat ditemui pada Selasa (29/11/2022).
Sebagai buktinya, Verawaty menunjukkan suasana kelas yang diisi delapan siswa dan dua tenaga pendidik yang hanya dipisahkan dua meja. Kedua guru tampak luwes dalam memberikan bahan ajar kepada siswanya. Kesan ribut tak muncul. Bahkan kelas yang terlihat tampil seadanya itu Bukan terkesan ribut, kelas yang terlihat tampil seadanya itu justru terkesan ceria. Keceriaan semakin bertambah dengan hadirnya ornamen dan kalimat motivasi di dinding ruang kelas dengan aneka warna.
Awal berdirinya Chloe Learning Center

Verawaty yang sudah berumah tangga merasa termotivasi dari kegiatan yang sering ia lakukan saat masih muda, yakni menjadi tenaga pendidik. Mengingat dulu ia sangat aktif dalam mengajar, tiba-tiba menjadi pasif untuk waktu yang lama terasa membebaninya karena tidak menghasilkan sebuah karya maupun prestasi setelah menikah. Atas dasar tersebut, ia meminta izin kepada keluarga untuk merintis bimbingan belajar dari bawah.
“Keadaan kita sekarang ini jangan hanya dilihat dari bangunan, kantor, hingga resepsionis yang ada saat ini. Kami benar-benar mulai dari nol. Sama sekali tidak memiliki gedung untuk belajar mengajar,” kata Verawaty.
Jelas diingatannya, saat itu ia masih menumpang dirumah kakak sepupunya tepatnya di Lantai 3 dengan tiga orang siswa. Bergerak dari situ lama kelamaan siswa yang belajar terus bertambah banyak hingga sekarang ini. Adapun rentang usia siswa yang ada di Chloe Learning Center itu terdiri dari jenjang PAUD hingga SMA.
Bimbel Chloe Learning Center ini hadir dengan beberapa pendekatan mengajar. Jangan pernah mengharapkan bahwa setiap anak mengeluarkan hasil yang sama. Mereka terlahir beragam, selamanya tidak berpatok ingin menjadi guru, pilot, dokter, perawat, dan profesi lainnya. Contohnya, sekarang ini banyak pekerjaan atau profesi baru seperti content creator dan digital marketing. Oleh karenanya penting bagi orang tua mempersiapkan anak-anak sesuai kebutuhan zaman mereka.
Verawaty mengatakan, tiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, pamahaman dan kebiasaan yang berbeda-beda yang dimulai dari keluarga sehingga tenaga pendidik memerlukan beberapa pendekatan dalam mengajar siswanya. Kelebihan Chloe Learning Center ini terdapat pada kelas yang dibuka mulai dari baby class, nursery class, play group, TK A, TK B, sampai jenjang Senior high school yang berfokus pada pengembangan akhlak, kemandirian, sosial emosi, dan kreativitas pada anak.
Namun terlepas dari itu, Chloe Learning Center juga bertujuan bukan bagaimana menjadi pengajar tetapi menjadi tenaga pendidik. Artinya pendidikan itu tidak berhenti di ruang kelas, sekolah maupun guru. Namun bagaimana mereka (siswa) dapat berpikir dan menghadapi satu masalah dalam satu situasi dengan berhasil memecahkannya. Karena pendidikan paling awal berasal dari rumah yaitu orang tua. Untuk mengakomodir hal ini, Chloe juga menyediakan layanan konsultasi antar orang tua siswa serta mengadakan seminar membahas tips parenting yang dapat digunakan oleh orang tua siswa.
Tantangan Pandemi
Pada bulan Maret 2020, tidak ada yang tahu kalau imbas pandemi memaksa setiap orang beraktifitas dari rumah. Bahkan saat itu, zoom meeting belum akrab di telinga masyarakat. Jangankan itu, segala sesuatu yang berbasis online masih terlihat meraba-raba. Hampir setengah dari siswanya memutuskan tidak lanjut bimbingan belajar. Sedangkan, di satu sisi stafnya perlu digaji, yang mana karena pandemi sumber pendapatan kian merosot. Verawaty dengan para staf pun berunding dan Verawaty memberikan masukan. “Jika saya tetap bayar kamu penuh dan dirumahkan, saya yakin kita bertahan hanya tiga bulan. Namun jika saya bayar kamu setengah dan dirumahkan saya janji saya akan bertanggung jawab. Saya akan pulihkan keadaan, tapi beri saya kesempatan. Akan tetapi, jika kamu tanya saya kapan? Tidak ada yang tahu jawabannya,” katanya.
Kejadian ini mendorongnya bekerja ekstra. Selain memajukan intelektual siswanya ia masih memikirkan keadaan stafnya yang membutuhkan tambahan uang untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Ditambah, ia telat menyadari pentingnya membangun branding (citra) di media sosial. Karena saat di rumah masyarakat hanya berkabar melalui gadget dan berselancar di dunia maya. Sedang, saat itu akun media social Chloe Learning Center masih belum berkembang. Akhirnya, saat pembaharuan akun dari follower yang kecil hingga Verawaty memutar otak untuk mengadakan live instagram tiap hari dengan mengundang kenalannya sebagai narasumber. “Saya tidak gengsi lagi. Saya hubungi beberapa rekan tenaga pendidik maupun kenalan di luar profesi. Saya bilang kamu bisa apa kita bahas itu, semisal investasi, literasi, sains semua saya jadikan topik dalam live instagram tersebut,” ungkap Verawaty.
Untuk semakin mendalami profesinya sebagai tenaga pendidik, Verawaty merasa perlu mempelajari keahlian lain demi menunjang pendidikan di Chloe Learning Center. Vera kemudian mengambil pelatihan hypnotherapy dengan gelar CHt (Certified of Hypnotherapy).
“Hypnotherapy yang saya pelajari di sini bukan seperti pesulap atau cenayang yang biasanya kita lihat di televisi, ya. Saya tidak dapat menghipnotis anak dengan hanya menatap mata saya. Tetapi dengan hypnotherapy saya dapat membantu hubungan antara orangtua dan anaknya melalui therapy yang saya berikan,” ungkap Verawaty.
Verawaty pun aktif sebagai public speaker. Verawaty juga sering mengadakan seminar tentang parenting dan anak. Hal ini terbukti dari beberapa penghargaan dan surat sertifikat yang dipajang di ruang kantornya. Tak hanya menjadi speaker dalam dunia pendidikan, ia juga sering diundang menjadi speaker dalam bidang bisnis seputar financial dan investasi. “Aktivitas-aktivitas yang saya lakukan ini penting bagi saya untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola Chloe Learning Center. Indonesia butuh tenaga pendidik yang mumpuni dan cakap agar masyarakat dapat berangsur-angsur hidup sejahtera. Karena pendidikan merupakan salah satu alat untuk mengubah nasib,” katanya. (*Lian Zalukhu)
