Categories Artikel

Moderasi Pendidikan Soft Skills di Sekolah Menengah Atas Pasca Pandemi

Naskah Juara 10 Lomba Artikel Nasional (FOTO DOK : https://www.sman1panggarangan.sch.id/)

Ditulis oleh : Rezafani Alifa Walid

Dalam dunia kerja maupun pendidikan, kita sering dituntut untuk menguasai kemampuan dalam berbagai hal sekaligus agar memudahkan kita dalam suatu pekerjaan tertentu. Salah satunya, kemampuan Soft Skills yang terbagi menjadi tiga elemen utama yaitu, self awareness skill, thinking skill, dan social skill.  Soft Skills sendiri menurut Berthal (Muqowim, 2012 : 5) adalah perilaku personal dan intrapersonal yang mengembangkan serta memaksimalkan kerja. Sederhananya Soft Skills ialah kemampuan yang mencakup kecerdasan interpersonal (mengerti dan peka terhadap orang lain) dan kecerdasan intrapersonal (memahami diri dan bertindak adaptif) seperti pemecahan masalah, kerja tim, kepemimpinan, daya pikir kritis, etos kerja, kemampuan adaptasi serta kemampuan berinteraksi. Namun, kemampuan Soft Skills acap dipandang sebelah mata pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Padahal, Soft Skills berperan penting bagi pelajar menengah atas menghadapi berbagai polemik sekolah serta mendukung kegiatan belajar mengajar.

Fakta yang dialami banyak siswa, bahwa orientasi yang ditekankan pada jenjang pendidikan formal ini terfokus pada akademik dan teori teknis pengetahuan (Hard Skiils) saja. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk mempersiapkan bekal menghadapi perkembangan dan pergeseran kompetensi masa depan malah beralih fungsi menjadi ruang informasi satu arah yang hampir semuanya memuat materi akademik. Hal tersebut kontradiktif dengan riset yang dikemukakan oleh National Association of College & Employers (NACE) menyebutkan bahwa dalam keahlian kerja profesional dibutuhkan sebesar 82% Soft Skills dan 18% Hard Skills. Terlebih lagi, kini muncul tantangan baru dalam pendidikan Soft Skills dengan situasi serba daring akibat pandemi Covd-19 yang membatasi ruang interaksi antar siswa secara langsung (tatap muka). Berimbas pada penurunan ketertarikan dan kemampuan Soft Skills siswa.

Dalam hal ini, generasi millenial berperan dalam pengembangan metodolgi pendidikan Soft Skills yang relevan dengan kebutuhan siswa dalam mendesain ulang proses pendidikan Soft Skills melalui berbagai aspek di Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai berikut. (1) Pembelajaran kontekstual. Dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah berbasis daring (KBM), penekanan aspek kemampuan Soft Skills dapat dilakukan dengan mengaitkan materi atau bahan ajar dengan realita yang ditemui di lapangan. Kita dapat ikut berkontribusi dalam menyediakan materi pembelajaran kontekstual di berbagai platform digital dan akun pembelajaran yang terafiliasi dengan Kemdikbud-ristek. Metode pembelajaran seperti ini menjadikan siswa dapat memahami konteks materi yang disampaikan secara kritis dan fundamental.

  (2) Kegiatan workshop atau seminar. Bentuk kegiatan diluar ruang kelas juga sangat penting dalam pengembangan pendidikan Soft Skills siswa. Kita dapat mengadakan seminar atau workshop secara daring tentang kemampuan soft skills yang harus dimiliki dan dipersiapkan oleh pelajar SMA seperti leadership, problem solving, finance, mental health issue dan sebagainya. Selain sesi pemaparan materi juga diadakan sesi games, tanya jawab, serta diskusi untuk menjalin komunikasi dua arah antara pemateri dan audiens. Selain menambah produktivitas siswa, kegiatan semacam ini dapat mengisi waktu luang, ketika kita diharuskan untuk berada di rumah saja.

  (3) Lingkungan Sekolah. Atmosfer atau suasana sekolah yang sehat dapat meningkatkan peran siswa secara langsung dalam mengonstruksi pengembangan kemampuan Soft Skills yang berkesinambungan(sustainable). Peran seluruh elemen sekolah mulai dari staf, pegawai, guru, komite sampai siswa dalam menjaga komitmen pengembangan pendidikan Soft Skills di lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab bersama. Misalnya dengan literasi setiap 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, mewajibkan penggunaan bahasa inggris dalam berkomunikasi di hari tertentu, kegiatan curah pendapat (brainstorming), atau sekedar permainan mengasah kemampuan kognitif yang dimainkan bersama-sama seperti hashi puzzle, sudoku dan teka teki silang.

(4) Kompetisi dan perlombaan. Di situasi pandemi seperti ini, antusiasme siswa dalam mengikuti perlombaan relatif menurun. Oleh karena itu, literasi dan sosialisasi tentang pentingnya mengikuti berbagai perlombaan dapat kita sampaikan melalui platform digital serta media sosial yang mudah diakses oleh siswa. Dilain sisi, siswa juga harus terlibat pro-aktif dalam mencari informasi tentang perlombaan dan mengomunikasikanya dengan guru atau pembimbing terkait. Kompetisi dan perlombaan tidak melulu tentang juara dan hadiah, melainkan juga bermanfaat dalam menambah pengalaman serta memperluas relasi siswa.

Dengan pengembangan pendidikan Soft Skills yang kompleks melalui berbagai aspek serta dukungan dari pihak sekolah, tidak sulit rasanya bagi siswa SMA saat ini untuk memiliki kemampuan Soft Skills yang layak bagi masa depannya. Hal tersebut berguna bagi siswa dalam menghadapi berbagai persaingan di tingkat perguruan tinggi maupun dunia kerja profesional dengan begitu banyak persoalan di belakangnya.

Daftar Pustaka

Putra, Ichsan & Pratiwi, Ariyanti. 2005. Sukses dengan Soft Skill. Bandung : Institut Teknologi Bandung

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *