Categories Artikel

BOS KUDA HYBRID LEARNING SOLUSI ALTERNATIF PEMBELAJARAN PASKA PANDEMI COVID-19

Naskah Juara 8 Lomba Menulis Artikel Nasional (FOTO DOK : ttps://www.pcman.co.id/)

OLEH : BAHAR SUNGKOWO MPd

Hybrid : tidak selalu IoT paska Pandemi Covid-19

Jelang dua tahun lebih, manusia di dunia ini merasakan pandemi Covid-19. Seluruh tatanan kehidupan dalam lingkup kebutuhan manusia menjadi porak poranda diterjang pandemic ini. Entah kapan semua musibah dan bencana ini akan
berakhir, kita semua tiada yang tahu. Sejatinya, pandemi Covid-19 haruslah diakhiri, sehingga tatanan kehidupan manusia kembali normal seperti sedia kala.

Era Teknologi dan digitalisasi di abad 21 menjadi suatu keniscayaan untuk menerapkan teknologi internet dan digital di lini kehidupan manusia. Ada ketentuan IoT atau Internet Of Think atau internet untuk segalanya menjadi icon dalam era Abad 21. Adanya keterbatasan dengan menggunakan internet secara totalitas dimasa pandemi dan paska pandemi nanti, maka hal yang dilakukan adalah menerapkan Hybrid/blended dalam menyiapkan era digitalisasi berbasis IoT.

Menurut Curtis J.Bonk, Charles R. Graham bahwa Hybrid/Blended bermakna campuran, bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik. (Curtis J.Bonk, Charles R. Graham. 2006 ). Dari makna ini dapat kita simpulkan
bahwa hybrid/blended adalah mengkombinasikan dua hal yang berbeda untuk mengatasi permasalahan yang belum sepenuhnya dapat diatasi dengan satu hal tersebut. Dengan mengkombinasikan ataupun menggabungkan kedua hal tersebut, maka tujuan dapat dicapai dengan baik.

Dalam tatanan Pendidikan, khususnya di Indonesia sangat tepat menerapkan konsep hybrid Learning dalam kegiatan pembelajaran secara Nasional. Menurut Richard Garnet bahwa hybrid Learning ataupun pembelajaran Hybrid
sangat sesuai di negara atau wilayah yang kesulitan dalam akses Internet. Garnet menyatakan bahwa Hybrid learning memberikan kesempatan yang terbaik untuk belajar dari kelas transisi ke elearning. Hybrid learning melibatkan kelas (atau tatap muka) dan belajar online.

Berdasarkan informasi dan litarasi diatas, maka kami mengusulkan suatu solusi dalam konsep pembelajaran di masa paska pandemi Covid-19 dengan usulan Hybrid Learning berkonsep Bos Kuda atau Baamboozle Swit Kwartet Unggul
Diskusi Aktif. Dengan ide kreatif ini, diharapkan menjadi solusi konkrit dalam menerapkan hybrid learning atau pembelajaran hybrid di masa paska pandemi Covid-19.

Penerapan Bos Kuda Hybrid Learning dalam PTM dan PJJ dimasa paska pendemi Covid-19

Konsep Bos Kuda Hybrid Learning secara umum telah diterapkan oleh penilis dalam pembelajaran di kelas dimasa pandemi Covid-19. Karena konsepnya Hybrid Learning maka Bos Kuda ini dilakukan dalam pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh. Guru dan siswa berperan aktif dalam penerapan Bos Kuda Hybrid Learning. Guru menyusun skenario pembelajaran dan aplikasi serta media yang diperlukan dalam Bos Kuda Hybrid Learning dan siswa berperan aktif dalam diskusi-diskusi aktif pada pembelajaran menggunakan konsep Bos Kuda Hybrid Learning.

Untuk jelaskan, bagaimana konsep Bos Kuda Hybrid Learning diterapkan penulis dalam pebmbelajaran dikelas dimasa pandemi Covid-19 dan nanti dimasa paska pandemi Covid-19?. Akan dijelaskan dibawah ini.

  1. Bos Kuda Hybrid Learning dalam pembelajaran tatap muka.
    Penulis menerapkan dengan konsep Kuda yakni dengan menggunakan Kwartet unggul diskusi aktif (Kuda). Kwartet adalah 48 kartu yang bertemakan materi pelajaran dengan empat kartu himpunan yang harus
    dikumpulkan pemain dan itu menjadi bahan diskusi aktif dalam pengembangan materinya. Dalam kelompok kuda tersebut siswa akan memahami materi pelajaran dengan beberapa kompetensi:
    a. Kompetensi menetapkan himpunan empat kartu dengan tepat sesuai materi. Empat kartu itu harus benar dan sesuai dengan materi yang dipelajari b. Kompetensi diksusi aktif dengan aspeknya : memimpin diskusi, menjadi notulen diskusi dan memberikan gagasan dalam kelompok bermain.
  1. Bos Kuda Hybrid Learning dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ)
    Pada pembelajaran jarak jauh (PJJ) penulis menerapkan konsep Bos yakni perpaduan aplikasi Baamboozle.com yang dapat dikreasikan sesuai dengan materi pembelajaran yang kira berikan dan Swic yakni Sinergi wahana interactive Classpoint. Swic adalah konsep powerpoint interaktif menggunakan Classpoint yang dikreasikan guru. Adapun siswa memiliki kompetensi setelah mengikuti pembelajaran menggunakan konsep Bos yakni :
    a. Kompetensi memahami materi dengan game interaktif Baamboozle
    dengan nilai diatas KKM (75).
    b. Kompetensi memahami materi dengan powerpoint unteraktif Classpoint
    dengan nilai PH atau penilaian Harian diatas KKM (75).

Hasil penerapan dan simpulan Bos Kuda Hybrid Learning dalam pembelajaran di kelas.

Penulis melalui artikel ini menjelaskan bahwa Bos Kuda Hybrid Learning dapat menjadi solusi positif dalam pembelajaran di masa paska pandemi Covid-19. Hal ini dikuatkan dengan hasil pembelajaran yang memuaskan dalam kombinasi PTM dan PJJ di masa pandemi Covid-19 dengan penjelasan sebagai berikut :
a. Prestasi belajar siswa cukup bagus dengan hasil PH, sama dan diatas KKM sebesar 87% dan sebanyak 13% dibawah KKM.
b. Sebesar 91% menyatakan Bos Kuda Hybrid Learning berpengaruh positif terhadap kemajuan pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Diakhir artikel ini, penulis membeikan simpulan bahwa Konsep Bos Kuda Hybrud Learning dapat memberikan solusi alternatif yang cukup baik dalam pembelajaran dimasa pandemi Covid-19 dan dimasa paska pandemi Covid-19. Bos
Kuda Hybrid Learning sebaiknya dibuat dengan tampilan digital yang semenarik mungkin dan dengan tampilan kekinian yang dikenal serta disukai siswa.

Referensi :


Curtis J.Bonk, Charles R. Graham. 2006 “The Handbook of Blended/hybrid
learning” USA:Pfeiffer.
Elaine Allen, Jeff Seaman, and Richard Garrett, 2007, Blending In The Extent and
Promiseof Blended/hybrid Education in the United States, Sloan-CTM.
Sardiman dkk, 2018. Pembelajaran IPS untuk Kelas VII SMP dan MTs. Jakarta:
Platinum.
Dr Anjeline Hanafi. Lindungi Anak Kita dari Bahaya Adiksi Internet. Jakarta.
Jurnal Ilmiah Ikatan Psikiater Indonesia (IPI).

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *