ILUSTRASI LUKA DI DADA TANAH (Sumber: Gemini)
Luka Purba
Dada tanah ini memar,
Dihantam tapak-tapak nanar.
Besi mengoyak sampai ke tulang,
Tapi napasnya pantang hilang.
Ia menolak mati tertunduk,
Mengunyah nyeri dalam peluk.
Aku berpijak pada luka abadi,
Menunggu daging ini ditelan sunyi.
Rahim Sunyi
Kita cuma debu yang sombong,
Berteriak di atas ruang yang bolong.
Membangun surga dari debu,
Lupa pada liang yang terus menunggu.
Bumi diam, tak butuh puji,
Merapal mantra yang paling sunyi.
Di rahimnya tak ada yang raja,
Semua lebur jadi tanah belaka.
Napas Arang
Pohon-pohon sudah jadi arang,
Langit batuk darah di kala petang.
Asap mengepul mencekik hari,
Matahari mati berkali-kali.
Bumi meronta, mengutuk besi,
Tapi detaknya tak mau henti.
Biar hancur dipukul palu,
Ia tetap merangkulku teguh dan bisu.
Jantung Batu
Tengah malam, tanah ini berdenyut,
Menyerap tangis dan nyali yang susut.
Retaknya adalah mulut yang lapar,
Menelan segala yang terhampar.
Bumi bukan sekadar batu,
Ia detak jantung yang kekal.
Bawa aku pada intinya yang merah,
Biar darahku menyatu dengan tanah!
Menantang Badai
Aku berdiri, menantang badai,
Bumi di bawahku meradang, tak mau usai.
Keringat dan darah tumpah ke liang,
Tanah ini membangkang, menolak hilang.
Akan kurebut sisa napasnya,
Biar terbakar seluruh semesta.
Satu tarikan, aku dan batu,
Berani hidup, berani berseteru!
(Cantriya Simbolon)
