Ilustrasi pertemuan Arga dan Elena di sebuah kedai kopi setelah tiga tahun berpisah. Secangkir kopi menjadi teman percakapan mereka untuk menyelesaikan masa lalu dan berdamai dengan pilihan hidup masing-masing. (FOTO: Gemini AI)
Malam itu, rintik hujan baru saja mereda di pelataran kedai. Arga menatap cangkir keramiknya yang tinggal menyisakan ampas hitam di dasar. Di seberang meja, Elena sedang sibuk melipat sudut kertas pembungkus sedotan menjadi segitiga-segitiga kecil yang rapi kebiasaan lama yang tidak pernah hilang setiap kali perempuan itu merasa gelisah.
“Kamu terlambat tiga puluh menit,” kata Arga pelan, memecah deru sayup kendaraan di jalan raya.
Elena mendongak. Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum getir yang akrab. “Jalanan macet. Lagipula, tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk sekadar meributkan tiga puluh menit, Ga.”
Kata-kata itu mendarat tepat sasaran. Tiga tahun lalu, di tempat yang tidak jauh berbeda, percakapan mereka terputus di tengah jalan bukan karena kemarahan yang meledak-ledak, melainkan oleh keputusan Elena untuk pergi mengejar beasiswa ke kota lain tanpa memberi ruang bagi kompromi. Saat itu, ambisi terasa jauh lebih mendesak daripada menjaga hati seseorang tetap utuh.
“Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja,” lanjut Elena, suaranya melembut. Matanya menyusuri wajah Arga, mencari sisa-sisa pemuda yang dulu kerap tertawa lepas di sampingnya. “Kudengar kamu baru saja membuka kantor konsultan sendiri. Selamat.”
“Terima kasih. Berjalan cukup baik, meski sering melelahkan,” jawab Arga singkat. Tangannya meraih cangkir, baru menyadari isinya sudah tandas. Ia meletakkannya kembali perlahan. “Kamu sendiri? Rencana setelah ini apa? Menetap di sini, atau berangkat lagi?”
Elena menghentikan jemarinya. Potongan kertas yang sudah berbentuk piramida mini ia dorong ke tengah meja.
“Aku ditawari posisi tetap di sana. Kontraknya panjang,” gumamnya, tatapannya beralih menatap pantulan lampu jalan di genangan air luar jendela. “Tapi sebelum menandatanganinya, ada satu beban yang selalu tertinggal di sini. Aku berutang kata maaf padamu, Arga. Cara aku pergi waktu itu… kekanak-kanakan.”
Hening merayap di antara mereka selama beberapa saat. Musik jazz tempo lambat dari pelantang suara kafe mengisi celah kosong yang ditinggalkan Elena.
Arga menarik napas panjang, melepaskan sesak yang sempat membayangi dadanya. Dulu, ia membayangkan pertemuan ini akan dipenuhi tuntutan penjelasan atau luapan kekecewaan. Namun kini, melihat mata Elena yang tampak letih oleh perjalanannya sendiri, rasa getir itu menguap begitu saja.
“Elena, waktu itu kita berdua sama-sama belum selesai dengan diri sendiri,” tutur Arga tenang. “Aku sempat marah, itu benar. Tapi sekarang sudah lewat. Kamu mengambil keputusan yang tepat untuk hidupmu, dan aku juga menemukan jalan yang memang harus kujalani.”
Elena menatapnya lurus-lurus, lalu mengembuskan napas lega yang begitu nyata, seolah beban berton-ton baru saja diangkat dari pundaknya. “Jadi, kita baik-baik saja?”
“Kita baik-baik saja,” sahut Arga sambil tersenyum tulus untuk pertama kalinya malam itu.
Pelayan kafe melintas dan Arga mengangkat tangan, memesan dua cangkir kopi baru. Kali ini bukan untuk membicarakan masa lalu yang tertunda, melainkan sekadar merayakan dua orang asing yang pernah saling mengenal, kini berdamai dengan arah hidup masing-masing.
Malam itu, rintik hujan baru saja mereda di pelataran kedai. Arga menatap cangkir keramiknya yang tinggal menyisakan ampas hitam di dasar. Di seberang meja, Elena sedang sibuk melipat sudut kertas pembungkus sedotan menjadi segitiga-segitiga kecil yang rapi kebiasaan lama yang tidak pernah hilang setiap kali perempuan itu merasa gelisah.
“Kamu terlambat tiga puluh menit,” kata Arga pelan, memecah deru sayup kendaraan di jalan raya.
Elena mendongak. Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum getir yang akrab. “Jalanan macet. Lagipula, tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk sekadar meributkan tiga puluh menit, Ga.”
Kata-kata itu mendarat tepat sasaran. Tiga tahun lalu, di tempat yang tidak jauh berbeda, percakapan mereka terputus di tengah jalan bukan karena kemarahan yang meledak-ledak, melainkan oleh keputusan Elena untuk pergi mengejar beasiswa ke kota lain tanpa memberi ruang bagi kompromi. Saat itu, ambisi terasa jauh lebih mendesak daripada menjaga hati seseorang tetap utuh.
“Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja,” lanjut Elena, suaranya melembut. Matanya menyusuri wajah Arga, mencari sisa-sisa pemuda yang dulu kerap tertawa lepas di sampingnya. “Kudengar kamu baru saja membuka kantor konsultan sendiri. Selamat.”
“Terima kasih. Berjalan cukup baik, meski sering melelahkan,” jawab Arga singkat. Tangannya meraih cangkir, baru menyadari isinya sudah tandas. Ia meletakkannya kembali perlahan. “Kamu sendiri? Rencana setelah ini apa? Menetap di sini, atau berangkat lagi?”
Elena menghentikan jemarinya. Potongan kertas yang sudah berbentuk piramida mini ia dorong ke tengah meja.
“Aku ditawari posisi tetap di sana. Kontraknya panjang,” gumamnya, tatapannya beralih menatap pantulan lampu jalan di genangan air luar jendela. “Tapi sebelum menandatanganinya, ada satu beban yang selalu tertinggal di sini. Aku berutang kata maaf padamu, Arga. Cara aku pergi waktu itu… kekanak-kanakan.”
Hening merayap di antara mereka selama beberapa saat. Musik jazz tempo lambat dari pelantang suara kafe mengisi celah kosong yang ditinggalkan Elena.
Arga menarik napas panjang, melepaskan sesak yang sempat membayangi dadanya. Dulu, ia membayangkan pertemuan ini akan dipenuhi tuntutan penjelasan atau luapan kekecewaan. Namun kini, melihat mata Elena yang tampak letih oleh perjalanannya sendiri, rasa getir itu menguap begitu saja.
“Elena, waktu itu kita berdua sama-sama belum selesai dengan diri sendiri,” tutur Arga tenang. “Aku sempat marah, itu benar. Tapi sekarang sudah lewat. Kamu mengambil keputusan yang tepat untuk hidupmu, dan aku juga menemukan jalan yang memang harus kujalani.”
Elena menatapnya lurus-lurus, lalu mengembuskan napas lega yang begitu nyata, seolah beban berton-ton baru saja diangkat dari pundaknya. “Jadi, kita baik-baik saja?”
“Kita baik-baik saja,” sahut Arga sambil tersenyum tulus untuk pertama kalinya malam itu.
Pelayan kafe melintas dan Arga mengangkat tangan, memesan dua cangkir kopi baru. Kali ini bukan untuk membicarakan masa lalu yang tertunda, melainkan sekadar merayakan dua orang asing yang pernah saling mengenal, kini berdamai dengan arah hidup masing-masing.
