ILUSTRASI Opini “Bukan Sekadar “Go Digital”: Mengapa UMKM Medan Butuh Literasi Data”. (FOTO : Pinterest.com)
Transformasi digital di Kota Medan telah mencapai titik krusial. Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, kita menyaksikan gelombang besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang mulai merambah ekosistem digital. Namun, di balik keriuhan ini, tersimpan pertanyaan besar yaitu apakah perpindahan ke ranah digital sudah benar-benar meningkatkan kesejahteraan mereka secara terukur? Dilansir dari https://sumut.bps.go.id/ pada Rabu (14/01/2026), meskipun penetapan target digitalisasi UMKM terus meningkat, efisiensi operasional di tingkat pelaku usaha mikro masih menjadi tantangan utama karena rendahnya adopsi teknologi berbasis data.
Digitalisasi seringkali hanya dianggap sebagai pemindahan lapak dari fisik ke layar ponsel, tanpa perubahan pola pikir dalam mengelola informasi. Dilansir dari https://kominfo.go.id/ pada Kamis (05/02/2026), tercatat bahwa lebih dari 70% UMKM baru di wilayah Sumatera masih mengandalkan intuisi manual dalam pengambilan keputusan bisnis dibandingkan menggunakan alat analisis data sederhana yang tersedia di platform digital. Tanpa literasi data, mereka bergerak di tengah badai tanpa kompas. Sebagai pusat ekonomi di Sumatera Utara, Medan tidak boleh hanya bangga dengan kuantitas akun media sosial pelaku usahanya, tetapi harus mulai memperhatikan kualitas pengambilan keputusan berbasis fakta di tingkat akar rumput.
Anatomi Buta Data di Pasar Digital
Masalah utama yang menghantui UMKM kita adalah fenomena “data melimpah namun wawasan minim”. Setiap hari, platform digital menghasilkan ribuan data mulai dari jumlah pengunjung profil hingga waktu paling ramai pesanan. Sayangnya, mayoritas pelaku UMKM di Medan belum mampu menerjemahkan angka-angka tersebut menjadi langkah strategis. Dilansir dari https://aptika.kominfo.go.id/ pada Kamis (20/11/2025), hanya sekitar 15% pelaku usaha kecil yang memahami cara membaca metrik keterlibatan (engagement) untuk menentukan strategi stok barang mereka.
Secara teknis, kita melihat rendahnya adopsi analisis prediktif sederhana. Banyak pedagang di pasar-pasar besar Medan yang masih melakukan pencatatan secara konvensional atau bahkan tidak mencatat sama sekali. Dilansir dari https://hbr.org/ pada Selasa (10/03/2026), UMKM yang mengabaikan analisis data konsumen berisiko kehilangan potensi pendapatan hingga 30% akibat ketidakcocokan antara suplai barang dengan tren permintaan yang sedang berlangsung. Di era sekarang, intuisi tanpa dukungan data seringkali berujung pada penumpukan stok mati yang merugikan.
Ketergantungan pada tren sesaat juga menjadi masalah kronis. Banyak pengusaha muda di Medan yang terlalu fokus pada viralitas tanpa memahami keberlanjutan. Tanpa analisis segmentasi pelanggan, pasar menjadi jenuh dalam waktu singkat. Inilah yang menyebabkan banyak usaha “seumur jagung”; mereka mampu memulai dengan cepat secara digital, namun gagal bertahan karena tidak memiliki fondasi data untuk beradaptasi dengan kejenuhan pasar. Kita harus sadar bahwa kompetitor dari luar daerah masuk ke pasar Medan dengan strategi data yang jauh lebih matang untuk merebut hati konsumen lokal.
Mengubah Angka Menjadi Daya Saing
Solusi bagi tantangan ini bukan lagi sekadar memberikan pelatihan membuat konten kreatif, melainkan memperkenalkan konsep “Data-Driven UMKM”. Pemerintah Kota Medan bersama akademisi perlu mendorong kurikulum literasi data yang aplikatif. Pelaku usaha harus diajarkan cara membaca laporan mingguan di platform mereka secara sederhana: siapa pembeli mereka dan kapan waktu terbaik untuk promosi. Literasi data tidak harus rumit; ia cukup dimulai dari kebiasaan mencatat dan mengamati pola perkembangan usaha secara harian.
Kolaborasi antara keahlian analisis data dan pelaku UMKM adalah kunci jawaban yang paling strategis untuk memperkuat ekonomi lokal. Sinergi ini dapat diwujudkan melalui peran kaum intelektual dan praktisi teknologi sebagai “pendamping data” yang membantu UMKM lokal mengorganisir catatan penjualan mereka, lalu mengubahnya menjadi visualisasi tren yang mudah dipahami untuk pengambilan keputusan bisnis. Program pengabdian masyarakat dari institusi pendidikan di Medan sudah saatnya beralih dari sekadar sosialisasi teori ke arah implementasi teknis pengelolaan data yang berdampak langsung pada peningkatan omzet warga secara nyata.
Selain itu, perlu ada standarisasi infrastruktur data lokal bagi UMKM. Pemerintah daerah bisa membangun platform integrasi data yang memberikan wawasan gratis tentang tren pasar di Sumatera Utara secara spesifik. Informasi yang merata adalah bentuk keadilan ekonomi di era digital. Dengan akses data yang setara, pengusaha kecil di Medan tidak akan lagi merasa “buta” dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan besar yang memiliki sumber daya data tak terbatas.
Kesimpulannya, “Go Digital” hanyalah pintu masuk, namun literasi data adalah kunci untuk tetap berada di dalam ruangan kesuksesan. Kita tidak ingin melihat UMKM Medan hanya menjadi objek dari kemajuan teknologi, melainkan menjadi subjek yang memegang kendali atas datanya sendiri. Jika kita mampu mengubah pola pikir pelaku usaha dari sekadar berjualan menjadi mengelola peluang berbasis informasi, maka ekonomi kerakyatan kita akan jauh lebih tangguh terhadap guncangan pasar global.
Pada akhirnya, kejayaan ekonomi Kota Medan di masa depan bukan ditentukan oleh seberapa banyak aplikasi yang terunduh, melainkan seberapa cerdas kita membaca peluang di balik setiap angka yang tercipta. Mari kita dorong pelaku UMKM kita untuk tidak hanya memiliki akun digital, tapi juga memiliki pengetahuan digital yang berbasis pada fakta dan data. Hanya dengan cara itulah, pedagang kita di Medan bisa benar-benar berdaulat dan naik kelas di tengah arus modernisasi.
(Cinthya Sinaga)
