ILUSTRASI Opini Tidak Perlu Mewah untuk Terlihat Menarik (FOTO : Pinterest.com)
Fear of Missing Out (FOMO) diartikan sebagai perasaan takut ketinggalan tren, informasi, atau aktivitas yang sedang populer. Fomo adalah fenomena psikologis yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional seseorang. Utamakan kebutuhan daripada kemauan merupakan sebuah prinsip hidup yang bijak dan sangat relevan dalam berbagai aspek kehidupan. Prinsip ini mendorong kita untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan mendesak, bukan hanya keinginan atau kemewahan. Sering kali kita hanya menuruti kemauan yang seharusnya tidak perlu membuat kita menjadi boros untuk hal-hal yang tidak penting. Dilihat pada zaman sekarang seringkali orang mengesampingkan kegunaan barang yang ingin dibeli hanya karna kemauan untuk Fomo.
Di era digital yang semakin canggih membuat perkembangan yang semakin maju. Jejak digital yang melebihi batas pemikiran manusia dan banyak hal-hal baru yang tidak pernah terbayangkan menjadi terjadi. Media sosia sangat mempengaruhi dalam mengubah persepsi tentang kemewahan. FOMO bisa membuat seseorang kehilangan identitas diri sendiri dan dominan meniru gaya hidup orang lain. Seseorang tidak lagi fokus mengembangkan diri sendiri, tapi malah terobsesi buat meniru orang lain yang terlihat bahagia dan sukses di media sosial. Seperti yang kita ketahui terkadang apa yang kita lihat dimedia tidak seperti itu kenyataannya. Banyak orang yang kehilangan fokus dan konsentrasi sehingga hanya memantau media sosial dan tidak lagi mementingkan apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Menurut informasi dari https://www.halodoc.com Kamis (16/01/2025) bahwa fomo berdampak negatif bagi kesehatan mental. Dampak negatif FOMO dapat menyebabkan individu merasakan kecemasan dan stres, dapat membuat seseorang merasa tidak puas dengan hidupnya, dapat mengganggu konsentrasi seseorang dan membuat mereka sulit untuk fokus pada tugas yang sedang dilakukan dan cenderungan untuk terus-menerus membutuhkan persetujuan dan validasi orang lain.
Jika kita tidak pintar untuk mengontrol diri, Kita akan terus membandingkan hidup kita dengan orang lain di media sosial, dan merasa hidup kita kurang menarik. Semakin lama hal tersebut membuat kita menjadi depresi dan kehilangan rasa puas. Tidak fomo bukan berarti pelit terhadap diri sendiri tetapi itu bisa membuat diri kita untuk tidak terobsesi dengan hal-hal yang tidak berguna. Memprioritaskan kebutuhan bukan berarti hidup pelit. Ini tentang menata prioritas dan menghindari pemborosan.
Dalam mengatur pola pikir dan kebiasaan yang lebih sehat, kita dapat mengatasi fomo untuk menikmati hidup supaya lebih bermakna. Kita harus mengatur waktu untuk media sosial dan jangan terlalu sering ngecek update yang tidak penting, fokus pada diri sendiri bahwa kebahagiaan itu tidak berasal dari memiliki banyak barang atau meniru gaya hidup orang lain serta fokus pada diri sendiri dan melakukan hal supaya lebih bermanfaat. Jangan terus-terusan membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang punya jalan hidup masing-masing, meluangkan waktu untuk menikmati kesenangan nyata, seperti bermain sama teman, jalan-jalan di alam, atau ngejar hobi, selalu mengapresiasi diri berterima kasih atas segala hal yang kita miliki.
(Panen Nababan)
