Categories Cerpen Rehat

Si Gadis Berkepang

ILUSTRASI Cerpen “Si Gadis Berkepang” (FOTO : Pinterest.com)

Pagi ini ayah dan ibu sudah repot menyiapkan perlengkapan kami untuk liburan. Hari ini kami akan pergi liburan ke Yogyakarta, kota seni katanya. Ayah sibuk mengangkat koper kami yang cukup besar ke mobil, ibu sibuk menyusun perintilan kecil lainnya yang mungkin akan kami butuhkan disana, sedangkan aku hanya memperhatikan mereka saja.

“Tya, ayo masuk ke mobil nanti kita kesiangan loh,” teriak ibu yang sudah didalam mobil menyusun barang-barang kami. Hari ini kami akan berangkat bertiga dari rumah lalu akan menjemput bi Fani kerumahnya. Bi Fani adalah adik ibu ku yang baru saja pulang dari Malaysia dan ingin berlibur bersama kami.

Sekitar 15 menit, kami sampai di rumah bi Fani dan melanjutkan perjalanan kami dari Bandung ke Yogyakarta dengan mobil. Hampir satu harian di perjalanan, akhirnya kami sampai di salah satu hotel di kota Yogyakarta yang pemandangannya ada hamparan Pantai dengan ombak yang cukup tenang. Saat kami tiba, hari sudah malam. Ayah dan ibu memutuskan untuk tidur duluan, sedangkan saku dan bi Fani yang berada dalam satu kamar masih terjaga. Aku dengan ponsel ku, bi Fani dengan laptop dan filmnya.

“Tya, gimana rasanya sudah menjadi anak SMA?” ujar bi Fani membuka obrolan kami. “yah..gitu deh bi, banyakan ga enaknya. Soalnya temen Tya sedikit,” aku membalas ujaran bi Fani dengan sejujur jujurnya. Malam semakin larut, obrolan kami semakin singkat dan akhirnya kami memutuskan untuk tidur.

Tok..tok..

Terdengar ada yang mengetuk jendela kamarku dari luar, tanpa ragu aku beranjak dari tempat tidur dan menyibak gorden yang menutupi jendela kaca itu. Betapa terkejutnya aku saat aku melihat seorang anak kecil Perempuan berdiri disana, ia mungkin sekitar umur 6-7 tahun, rambutnya dikepan Panjang dan menggunakan dress biru muda dan boneka panda di tangannya. Aku membuka jendela itu yang lebarnya memenuhi dinding kamar kami.

“Hai, kamu siapa?kamu salah kamar ya?” tanyaku pada gadis kecil itu dengan raut wajah yang bingung.

“ka, ayo main kesana,” jawabnya dengan menunjuk kearah kolam renang. Jujur aku bingung dengan anak ini, ini jam 2 dini hari. Siapa yang akan bermain jam segini dikolam renang?, tapi aku hanya mengiyakan permintaan anak itu. Kami berdua menyusuri jalan menuju kolam renang pagi itu. Saat disana ia selalu melihatku seperti anak yang baru bertemu ibunya.

“Kak…kakak mau jadi temanku?aku kesepian disini, aku ditinggal mama,” katanya dengan wajah yang sangat sedih. Hatiku langsung miris mendengarnya.

“eh eh jangan sedih, kan kakak ada disini. Nama kakak Tya, kamu siapa?”

“aku Mita,” ku jabat tangannya yang terasa sangat dingin dan pucat. Setelah itu, gadis kecil berkepang itu menyenderkan kepalanya ke bahu ku, dingin langsung menjalari tubuhku dan bulu kuduk ku langsung bergidik.

Ting..(suara notifikasi chat masuk)

Langsung kubuka ponselku, mana tahu bi Fani yang mencariku karena tidak ada dikamar. Dan benar saja, pesan masuk dari bi Fani

“Ty, kamu ngapain di pinggir kolam sendirian. Masuk ih apa ga dingin?”

Mataku terbelalak melihat isi pesan bi Fani, langsung aku menoleh kearah kamar kami dan kulihat bi Fani berdiri di jendela sambil melambaikan tangannya. Tubuhku masih memebeku dengan apa yang baru saja kulihat, jelas-jelas disebelahku ada seorang anak kecil tapi kenapa bi Fani melihat aku sedang sendiri. Perlahan aku melihat kembali anak kecil yang masih bersandar dibahuku itu.

“Kenapa kak?kakak sudah tau?jangan pergi ya kak”, dengan suara rintihan yang mengerikan gadis itu perlahan mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar padaku. Mataku terbelalak ngeri melihat pemandangan ini, dia menggenggam tanganku sampai dingin terus menjalari tubuhku.

Tak kuasa aku menahan airmata yang membendung karena ketakutan, akhirnya kuberanikan diri untuk teriak dan berlari kekamarku sekencang yang kubisa. Sampai dikamar, tubuhku gemetar bukan main dan kudekapkan kepalaku dipelukan bi Fani. Sebenarnya bi Fani tidak mengerti apa yang terjadi barusan tapi ia memilih untuk tidak menanyakannya. Sampai keesokan harinya aku mencoba memahami situasi tadi malam, namun cara gadis itu tersenyum padaku selalu berkelebat dikepalaku dan membuatku mual. Lalu kuputuskan untuk melupakan semuanya.

(Cinthya Agatha Sinaga)

*******Bersambung*******

About The Author

1 comment

Cinthya says:

Follow for more story…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *