ILUSTRASI Cerpen “CeritaTentang Kakek”. (FOTO : Pinterest.com)
Aku duduk termenung dengan tatapan kosong ,mataku menatap kesembarang arah. Jelas sekarang aku sedang bernostalgia dengan masa kecilku yang dulu. Aku melihat kembali kakek ku dalam kenangan masa lalu ku yang indah. Ini semua karna aku melihat kakek tua yang sedang beli es krim untuk cucu kecilnya. ”Ahh malahh ingat kakek,” ucapku tiba-tiba. Akhirnya aku hanya bisa melihat pemandangan itu dari bawah pohon sambil menyeruput es cekek yang kubeli sedari warung tadi.
Perasaan sebenarnya aku ingin sekali langsung bergegas kerumah untuk bertemu kakek yang kurindukan,namun apa daya..kakek sudah tidak ada lagi disini.,kakek sudah pergi meninggalkanku dari dunia ini. Aku sangat dekat dengan kakek. Aku cucu kesayangan kakek begitupun dengan aku yang begitu menyayangi kakek. Semasa kecil ku yang penuh canda tawa tak pernah luput dari cerita ku bersama kakek,namun itu semua hanya bisa dikenang tanpa bisa diulang kembali.
Sekarang aku sudah sedikit lebih dewasa,tubuhku sudah besar,aku juga sudah tinggi. Tapi aku merasa jiwaku masih kecil. Aku masih ingin bermain seperti dulu sewaktu ada kakek. Aku masih ingin ikut bepergian bersama kakek setiap harinya. ”Mia,ayoo mandii!,” teriak kakek dari arah teras rumah saat aku sedang menonton film upin ipin kesukaanku. ”mau kemanaa kekk?,” sambung Mia. Biasanya kakek menyuruhku mandi saat akan mengajakku bepergian entah kemana. ”ayoo kepasar,mau ikutt nda?,” ucap kakek. ”ikutt kekk” ujarku dengan sekuat tenaga sambil kegirangan.
Aku langsung bergegas mandi dan memilih baju yang bagus untuk bepergian hari ini. Aku berlari membawa tas minion kecil ku dan menampak dirku dihadapan kakek bahwa aku sudah selesai mandi dan siap untuk berangkat. Kakek langsung mengambil kunci sepeda motor tuanya yang khas tahun 90-an. Selain itu kakek tak lupa membawa hasil tanaman nya dari kebun untuk dijual kepasar. Kakek memang petani kebun ,kakek sering membawa hasil kebunnya langgsung kepasar untuk dijual kepada pedagang disana. Biasanya kakek menjual langsung kepasar hanya saat membawaku kepasar saja.
Sampai dipasar kakek menjual semua hasil kebun yang dibawa, tidak butuh waktu lama semuanya sudah laku terjual. Terlihat kakek memegang lembaran lemaran uang hasil dari menjual hasil kebunnya.kakek dengan sumringah dan semangatnya mengajakku berbelanja sepuasnya dipasar. Kakek membelikanku banyak barang,mulai dari sepatu sekolah,tas sekolah,seragam dan barang barang yang lainnya tanpa aku harus memintanya. Kakek tau aku akan segera masuk SD,sehingga kakek membelikannku begitu banyak barang dari biasaanya. Biasanya kakek juga sering membelikannku banyak hal, jajanan dan juga mainan adalah favoritku. Tak jarang ibu memarahi ku ,karena mengira aku selalu memoroti kakek setiap bepergian dengan kakek. Setelah selesai berbelanja,aku dan kakek membeli sedikit oleh-oleh makanan untuk nenek dirumah. Itu hanya salah satu dari banyaknya kenangan ku bersama kakek.
Itu semua berubah ketika aku beranjak dari SD,aku mulai jarang bermain bersama kakek ketika aku sudah memasuki masa-masa SMP. Aku menghabiskan waktu ku seharian disekolah,bermain bersama teman-teman baru ku yang kunilai pastinya lebih menyenangkan dibanding bermain dengan kakekku yang sudah tua. Aku mulai bosan dengan aktivitasku yang berulang-ulang bersama kakek,cara ku berpikir dan caraku bermain kini sudah berubah. Tak lagi ikut berbelanja kepasar dan memborong jajanan yang banyak. Meski begitu kasih sayang kakek kepada ku tak pernah berubah sedikitpun. Meski aku selalu menolak ajakannya,kakek tak pernah lupa menawari aku untuk bepergian bersamanya. ”Mia mau ikut nda?,kakek mau belanja kepasar! mumpung ada pekan raya miaa,” ucap kakek dengan penuh harapan. ” Engga kek..Mia hari ini ada janji mau main kerumah santi”. Tolakku untuk yang kesekian kalinya. Tak lama terdengar suara berisik kenalpot dari kuda besi kakek yang melaju meninggalkan rumah.
Tak sadar kini aku sudah beranjak naik kelas, yap sekarang aku sudah kelas 2. Aku semakin menikmati kesibukanku disekolah. Kini kakek sudah jarang kepasar,bukan karena aku tidak mau ikut lagi dengannya. Tapi kini kakek sudah sangat rentan dan sudah sering sakit-sakitan sehingga nenek melarang kakek untuk bepergian lagi. Sampai suatu hari,kakek harus dirawat dirumah sakit selama berminggu-minggu. Sebenarnya aku kurang mengerti penyakit apa yang kakek alami sehingga harus dirawat sangat lama. ”Bu,kakek sakit apa si?kok lama sekali pulangnya?,” Tanya ku pada ibu. ”Ya kakek kan sudah tua,penyakitnya biasa seperti penyakit orang tua pada umumnya”jawab ibu sekenanya saja. Aku juga berpikir hal itu mungkin karena kakek sudah tua saja. Dalam batinnku aku juga merasa rindu pada kakek,biasanya setiap pagi kakek selalu duduk di teras rumahnya sambil ngeteh sembari melihatku berangkat sekolah. Rumahku bersebelahan dengan rumah kakek, jadi aku tau betul keseharian dan kegiatan kakek. aku sering bolak-balik antara rumahku dengan rumah kakek sehingga tak pernah merasa asing dengan rumah kakek dan menganggapnya seperti rumahku juga. Namun semenjak kakek sakit,aku tak pernah melihat aktivitas itu lagi.
Aku tetap beraktifitas seperti biasanya disekolahku tanpa ada ya berubah sedikitpun. Aku selalu berangkat pagi dan pulang hampir magrib. ”Nak,kamu tidak ada niatan jenguk kakek? kakek katanya rindu sama kau nak!,” ujar ayah padaku. ”Iya yah,nanti Mia jenguk. Mungkin hari minggu aja yah,Mia lagi sibuk sekali di sekolah!,” jawabku pada ayah. Aku juga memang berniat menjenguk kakek ,namun selama seminggu penuh aku harus mengerjakan tugas-tugas organisasi ku untuk kegiatan hari besar yang ada disekolahku. Hatiku tersentak merasa bersalah karena tak pernah mengunjungi kakek di rumah sakit selama ini. Aku hanya mendengar kabar-kabar yang dibawa ibu dan ayah dari rumah sakit.
Aku ingat pukul 3 sore aku pulang sekolah dan entah kenapa aku langsung bergegas pulang kerumah. Biasanya aku tidak langsung pulang,aku biasanya bermain dahulu sebentar lalu pulang. Aku berjalan bersama teman-teman ku yang rumahnya searah denganku. Tanpa kuduga ..betapa terkejutnya aku melihat bendera kuning berkibar dihalaman rumah kakek. jantungku berdegup kencang tak karuan,tak kurasakan air mata telah membasahi pelupuk mataku. Pikiranku kangsung tertuju pada kakek,kaki ku rasanya tak lagi sanggup lagi melangkah masuk kerumah. Dan benar memang kakek yang dimaksud bendera kuning itu. Pikiranku seakan membawaku kembali disaat aku masih kecil dulu saat-saat aku bermain bersama kakek. perasaan bersalah begitu menusuk jantungku,sesak rasanya ditinggal kakek yang begitu kusayang. Belum sempat aku menjenguk kakek tapi kakek sudah pergi meninggalkanku. Aku takkan mengira secepat itu kakek pergi,dalam pikiranku sangat kacau. Aku menyesal tak sempat menjenguk kakek,aku lebih mengutamakan kesibukannku ketimbang melihat kakek untuk terakhir kalinya. Tak ada sepatah katapun yang bisa kudengar dari kakek sebelum dia pergi.
”Kini semua nya hanya menjadi penyesalan saat kakek meninggalkan aku..bukan!! aku lah yang lebih dahulu meninggalkan kakek kesepian saat kakek merindukanku,” ucapku tanpa sadar air mataku sudah membasahi seluruh wajahku. Aku tersadar dari lamunan ku dan kini tak kulihat lagi kakek dan cucu kecilnya tadi. Kuhabiskan es cekek ku dengan segera dan berjalan pulang menyusuri ramainya jalan di sore hari ini.
(Pradipa Insani)
