

OLEH : Habibah Auni
Banyak orang menanti kehidupan pasca pandemi dengan sangat antusias Mereka sangat menginginkan pandemi untuk segera berakhir, sehingga bisa berada di pelukan orang-orang cinta. Terbebas dari kekhawatiran dan ketakutan dari kekejaman virus Covid-19. Menjalani kehidupan seperti sedia kala, tepatnya sebagaimana sebelum pandemi menyerang.
Kendati demikian, kehidupan pasca pandemi ini memiliki beberapa implikasi terhadap kehidupan banyak orang, terutama anak-anak autism spectrum disorder (ASD). Sebelumnya, ASD merupakan disabilitas perkembangan otak dan saraf (neurologis). Disabilitas yang bersifat seumur hidup ini memberikan pengaruh besar terhadap kemampuan anak dalam berkomunikasi, bersosialisasi, berperilaku, dan cara kerja sensor dalam merespons informasi yang datang ke anggota tubuh. Selain itu, gejala ASD lainnya adalah memiliki minat terbatas pada satu atau dua hal, daya fokus tinggi, dan harus mengikuti rutinitas sesuai jadwal kerja tubuh mereka secara ketat dan mendetail [1]
Kembali pada permasalahan kehidupan pasca pandemi; perubahan rutinitas akibat pandemi Covid-19 – baik itu dari sebelum pandemi, saat pandemi, maupun pasca pandemi – sering menjadi tantangan yang signifikan bagi
anak-anak dengan ASD. Melansir Kessler Foundation, transisi kehidupan imbas pandemi menyebabkan terjadinya peningkatan angka kecemasan dan stres pada diri anak ASD. Adapun tingginya angka stres berpotensi meningkatkan perilaku agresi, risiko depresi, dan meltdown (emosi meledak-ledak). Efek dominonya, dalam konteks pembelajaran, anak-anak ASD akan kesulitan dalam mengikuti ritme kelas serta bersosialisasi dengan teman-teman sepantarannya [2].
Dengan demikian, jika interpretasi dari kehidupan pasca pandemi ini adalah kehidupan dengan porsi aktivitas di dalam rumah – di luar rumah yang tidak beimbang, maka anak ASD akan mengalami kesulitan dalam mengubah
kebiasaan dan rutinitas mereka, sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan angka stres di diri anak-anak ASD. Namun, sebaliknya, apabila kehidupan pasca pandemi ini tidak berubah secara drastis dan tetap merumahkan penduduk diseluruh Indonesia, maka anak-anak ASD tidak akan mendapatkan masalah yang berarti, lantaran neurologis mereka sudah nyaman dengan rutinitas yang sama secara terus-menerus [3].
Di tengah ketidakpastian seperti ini, milenial ASD – sebagai salah satu agent of change – bisa mengambil peran lebih dalam memajukan kualitas pembelajaran anak-anak ASD. Milenial ASD dapat mewujudkan pembelajaran
yang inklusif dan ramah untuk anak-anak ASD dengan cara menggerakkan Autism Mentorship Program (AMP), yaitu sebuah inovasi pembelajaran terbaik untuk anak ASD di kehidupan pasca pandemi. Tujuan dari program ini tak lain dan bukan untuk membantu anak-anak ASD menemukan identitas dan sense of belonging serta mempererat hubungan mereka dengan milenial ASD. Harapannya, program ini dapat pula menyadarkan anak-anak ASD bahwa diri mereka bisa berkarya dan sukses selayaknya anak-anak neurotipikal (orang dengan saraf serupa, bukan orang autis)!
Mengapa harus mengandalkan milenial ASD? Karena, milenial ASD dapat memberikan pandangan terkait ASD secara penuh seluruh, tanpa ada bias sedikit pun. Hal ini mengingat milenial ASD dan anak-anak ASD memiliki banyak
persamaan, mengingat mereka berada di spektrum yang sama. Sehingga, mengutip teori double empathy, keduanya bisa berempati lebih mudah satu sama lain. Alhasil, gaya pembelajaran ala milenial autis bakal lebih cocok ketimbang
dengan milik guru-guru neurotipikal [4].
Tidak hanya milenial ASD, anak-anak ASD pun sangat diuntungkan dengan kehadiran AMP. Lantaran, anak-anak ASD dapat menyalurkan special interest-nya ke milenial ASD. Dengan adanya AMP, kebutuhan sosial anak-anak
ASD dapat terpenuhi dengan baik, bahkan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemimpinan pada masing-masing individunya.
Adapun di masa pandemi ini, milenial ASD bisa melakukan persiapan secara matang, mulai dari menyusun, merancang, hingga trial and error dari AMP – yang tentunya melibatkan berbagai pihak dengan perannya masing-masing. Misal, di dalam tubuh penggerak AMP, bakal ada suatu tim berisikan senior ASD yang bertugas dalam melatih kemampuan mendidik mentor. Ada pula timakademisi ASD yang memang ASD, di mana mereka bertugas dalam
mengevaluasi efektivitas dari AMP [5].
Nantinya, anak-anak ASD akan dibiasakan untuk mengikuti rutinitas yang dibuat oleh orang tua dengan kesepakatan bersama milenial ASD. Adapun kegiatan sehari-hari anak autis melibatkan kegiatan-kegiatan utama mereka, seperti waktu mengikuti pembelajaran di sekolah via daring, berpartisipasi dalam AMP, jadwal makan, mandi, olahraga, diet, dan lain sebagainya. Di samping itu, kegiatan sehari-hari juga disesuaikan dengan minat dan bakat mereka, sehingga mereka tidak akan tertekan tatkala mengikuti rutinitas yang sudah disusun oleh orang tua dan milenial ASD.
Buat mewadahi minat dan bakat anak-anak ASD, nantinya tim penggerak AMP akan membuat video tutorial untuk mereka. Mengingat otak anak ASD lebih cepat merekam segala sesuatu yang rigid, maka video tersebut bakal berisikan langkah-langkah taktis yang harus diikuti oleh anak-anak ASD. Di akhir bulan, anak-anak ASD bakal mempresentasikan pengetahuannya ke milenial ASD melalui aplikasi Zoom [6}.
Memang, konsep pasca pandemi belum terlalu meyakinkan; apakah setelah seluruh virus Covid-19 binasa pandemi sudah benar-benar usai atau malah sebaliknya. Sehingga, kurikulum AMP untuk masing-masing anak ASD perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kepribadian mereka. Di mana mentoring tersebut berisikan salah satu materi yang menjelaskan kalau anak-anak ASD harus membiasakan diri untuk mempersiapkan berbagai rencana.
Di masa yang akan datang, tepatnya di kehidupan pasca pandemi, anak ASD tidak akan lagi kesulitan dalam menjalani kehidupan, lantaran tubuh mereka sudah beradaptasi dengan kehidupan pasca pandemi yang sudah diprediksikan. Dengan peran penuh milenial ASD sebagai agent of change, anak-anak ASD dapat bersekolah dan beraktivitas kembali dengan rasa damai. Membuktikan ke dunia bahwa dirinya mereka bisa berprestasi selayaknya anak-anak neurotipikal!
DAFTAR PUSAKA
Anonim, 2021, Autism Spectrum Disorder (ASD), Centers for Disease Control and Prevention, dilihat 10 Juni 2021, . Genova, H 2021, Lessons from the Autism Community During the COVID-19 Pandemic, Kessler Foundation, dilihat 10 Juni 2021, . Oliver, C, & Pavlopoulou, G 2021, The COVID-19 pandemic: the experiences of young autistic people and their parents, UCL, dilihat 10 Juni 2021, . Crompton, CJ, DeBrabander, K, Heasman, B, Milton, D & Sasson, NJ 2021, Double Empathy: Why Autistic People Are Often Misunderstood, Frontiers Media S.A., dilihat 10 Juni 2021, . Anonim 2019, Program Feature: Autism Mentorship Program (AMP), Mentor, dilihat 10 Juni 2021, Merry, A 2021, Autism Mentorship Program Launches “Learn to Play” Video Series, The Journal Queen’s University, dilihat 10 Juni 2021
