Ini Dia Daftar Lengkap Naskah Lomba Puisi Nasional Veritas Unika, Adakah Milik Kamu?

Puisi ini merupakan karya peserta dalam Lomba Puisi Nasional yang dilaksanakan oleh Komunitas Veritas Unika yang dimulai pada tanggal 9 maret 2020 hingga 12 mei 2020. Untuk penilaian dalam puisi ini dimulai tertanggal 13 mei 2020 hingga 19 mei 2020. Serta pengumuman para pemenang disampaikan melalui media sosial komunitas veritas pada tanggal 20 mei 2020, yang dimana “Tuhan di Mata Awak” karya Richie Tjipto menjadi pemenang dalam lomba ini, diikuti Febby Yola L. Tobing dengan judul puisi “Atma Yang Hilang” sebagai jura ke-2 dan Muhamad Arby Hariawan dengan judul “Pahlawan Itu Bernama Guru Honorer” sebagai juara 3 dalam Lomba Puisi Nasional Veritas Unika. Berikut Nasakah Para Peserta Lomba Puisi Nasional Veritas Unika.

Rindu Dendam (Antologi Puisi)

“Rindu Berkesudahan”

Afness Baseba

Mengenalmu membawa pesona Anugerah

Merajut binar wajahmu mendayu hati

Merangkul wujud nyata bergelora

Menerjang peluru kendali tepat ke nadi

Bergejolak memecah buih asmara

Berkecamuk suka membawa hiba

Berdua merangkul merona terpadu

Bersama hanyut dalam buaian mimpi

Rindu tak berkesudahan renung diri

Rindu tak berkesudahan tatap mega

Rindu tak berkesudahan tergores asa

Rindu tak berkesudahan mengenang seruni

(Afness Basseba/Rindu Dendam/Medan)

Perempuan

Nabila Hasna

Perempuan…

Yang merajut sejuta mimpi

Yang merancang seribu aksi

Tanpa sekitar mengetahui

Cukup dirinya yang paham

Perempuan…

Berkoalisi antara ego dan ingin

Terus melawan,

Walau sekitar berkata mustahil

Terus mencoba,

Walau ia tau nanti definisi kecewa

Perempuan…

Menembus kebisuan yang menebal di dinding jiwanya

Mendobrak batas yang dikatakan sekitarnya

Tak peduli nanti bagaimana

Keberhasilan penuhi otak, jiwa, dan raganya.

(Nabila Hasna/Perempuan/Bekasi)

MANDALA PUJANGGA

Aldo Noval

Kita ialah ilusi maha sempurna

Bersinar, namun kita bukan baskara

Lekas redup, tapi bukan lentera

Yang di belenggu kata fana

Juga, cuman ada kita yang maya

Yang acapkali lupa, jika luka juga karya semesta

Wahai engkau yang bergumam lembut di telingaku

Tak ada yang selamanya hidup

Dan tak ada satupun yang bertahan lama

Karena setiap jiwa adalah singularitas yang ingin merasakan bebas

“Datang temui aku, bunga indahku dari masa silam”

“Bila saatnya tiba, adalah aku yang akan pergi”

Adakah suara itu ?

Panggilanku lagi

(Aldo Noval/Mandala Pujangga/Jakarta)

Tanah Merah

Amas Musliawati

Hari kelam berselimut pilu

Tubuh terkujur membeku

Sapa yang tak menyeru

Hati terisak mencekik hatiku

Seketika aku terhentak sedemikian hebat

Perasaan kosong melompong menolak nasihat

Sedangkan kau yang pergi menggertak,

Membuatku sesak, tersendak

Sebenarnya, bukan tentang kepergianmu

Karena kematian sesuatu yang pasti

Namun rasanya adaku tak sanggup tanpamu

Dan pergimu membuatku nelangsa setengah mati

Pada tanah basah terlihat merah

Aku selipkan doa dan salam berpisah

Dengan sesak napas yang terengah

Semoga pergimu tak terbantah janah.

(Amas Musliawati/Tanah Merah)

MENYAPA TANPA BERPAMITAN

Befriana haloho

Malam ini, ceritaku masih sama

Masih mencari jawaban dari setiap senyum yang kala itu masih sering menyapa

Tapi kini mungkin suhu juga mengalami fase perubahan

Sama seperti senyummu malam ini dingin untuk dinikmati

Bagaimana tidak ? aku menyuguhkan coklat panas untuk dinikmati

Tapi kau masih tetap bersekukuh dengan kopi pahitmu

Bukankah rasa pahit dapat memberi rasa pekat pada tenggorokan ?

Mungkin tak semua hal bisa menyamai cara pandang seseorang

Sama halnya dengan hati yang memiliki banyak rasa

aku yang telah lama memberimu rasa, Namun dia yang kau beri arti dicinta

(Befriana Haloho/Menyapa Tanpa Berpamitan/Medan)

TERTAHAN

Befriana haloho

Ditengah harubiru dunia

Kakiku Terpaku dibumi tempatku berpijak

Hidupku seakan di bungkam

Tawa dan tangis orang-orang tak lagi berdengung

Tak lagi kulihat keramaian kota

Seakan-akan kota ini mati tanpa hiruk pikuk

Ingin kulangkahkan kakiku pulang

Untuk menikmati suasana Desa

Namun tubuhku kaku, tertahan oleh waktu

Memaksaku untuk menungggu bumiku pulih kembali

Agar bisa menikmati tawa dan ocehan Dunia

(Befriana Haloho/Tertahan/Medan)

Pergumulanku

Dodi siboro

Pergumulan begitu berat aku rasakan, kadang aku mau mengadu tapi satupun orang tidak mengerti apa yang aku rasakan…

Aku di jelekkan dari belakang dengan orang yang selama ini aku kenal baik dan taat pada Tuhan, aku berkunjung kepada saudaraku itu salah, aku berkunjung kerumanhya salah dan aku berpacarab dilarangnya…

Oh Tuhan ada apa ini, mengapa setiap aku perbuat baik semuannya salah…

Kemanana Hak aku untuk hidup…? aku sempat tidak terimah dengan semua ini, aku mau melaporkan ke HAM tapi aku tidak bisa melaporkannya, hatiku sedih kemana semua saudaraku akan ibadah….? aku berdoa Tuhan kau tau apa pergumulanku bantu aku Tuhan untuk memahami ini semua, aku tidak sanggup dengan proses yang kau buat kepadaku

Tapi aku akan coba berusaha untuk memahaminya, karna aku yakin akan indah pada waktunya.

(Dodi Siboro/Pergumulanku/Medan)

Hujan

Einil Rizar

Terkadang, kedatanganmu membawa berkah

Namun seperti kebaikan yang ada

Keburukannya, Kedatanganmu juga membawa petaka

Orang seakan-akan tak pernah bersyukur atas

Datang dan perginya engkau

Namun engkau tak peduli dengan semua

Itu dan masih menghujani bumi dengan

Berkahmu, Bisakah aku sepertimu yang selalu berbuat

Kebaikan meski itu katanya buruk?

Bisakah aku sekuat dirimu. Yang engkau

Jatuhkan bagianmu ke tanah dari langit?

Biasakah aku bangkit dan kuat walau tak

Diharapkan? Walau disia-sia kan

Sampai orang lain mengharapkan diriku

Seperti kamu yang sekarang sedang diharapkan

(Einil Rizar/Hujan/Riau)

MERINDU DIKALA RINDU

Einil Rizar

Atma Kembali Menitihkan Rindu

Bumi menantikan rintik

Sang dama mencium rasa yang enggan kembali

Begitu lama aku harus menanti

Begitu jauh aku harus melihat pesona

Raga terpisah membelah diantara cakrawala

Aku sungguh merindu rasamu

Ingin ku dekap dirimu dengan erat

Memiliki setiap inci hati dan ragamu

Omong kosong, ini hanya halusinasi

Kau tak mungkin ku miliki

Kau telah dimiliki oleh yang memiliki hidupku

Lantunan doaku kan menembus cahaya semu

Agar suaku tak percuma

Gusti yang menantimu dikala rindu

(Einil Rizar/Merindu Dikala Rindu/Riau)

Rindu dan Jarak

Fathul Hamdani

Kembali kita berpeluk pada rindu yang tak terucap

Berpulang pada resah dan tenggelam dalam angan penuh harap

Biarkan aku menari dalam dunia imaji

Bercumbu dengan sunyi dan memelukmu dalam mimpi

Memandang jauh dan berlari diatas delusi

Bukankah kita hanya terpisah raga namun tak terhalang rasa?

Bukankah ia tumbuh dan bersemai dalam ruang penuh cinta? Bukan ruang gelap antara ada dan tiada

Kini kita terjebak dalam jarak dan menjadi manusia perindu karena jarak

(Fathul Hamdani/Rindu dan Jarak/Mataram)

Atma Yang Hilang
Febby Yola L.Tobing

Anak dara diam,
Ketika tuan diam-diam hadir dengan cinta diperputaran jiwa
Satu kali aku menunggu ditempat dimana kita berjanji
Sangat lama dan sampai baskara tenggelam menimbulkan gelap
Kutatap nanar sampai batas, jangankan wajahmu, bayang gelapmu saja tak nampak
Hingga ketiga kalinya aku menunggu namun tak jua akarapun itu hadir
Suara syakku mengabarkan  padaku…
Bahwa pilau hatimu sudah jauh berlayar hingga ketengah  laut sana
Ternyata benar firasatku,
Pada beberapa persinggahan  kau  telah  menemukan yang  lain dan menduplikatkan kunci hatimu kepadanya
Aku kehilangan lagi,Aku yang dulu menyemangati menjadi menjerit untuk dilupakan
Hai tuan..
Kau adalah  atmaku  yang  hilang
Untuk cerita yang sumarah,
Tentang hadirmu yang hanyalah ilusi semata.
(Febby Yola L. Tobing/Atma Yang Hilang/Medan)

Katanya dan Nyatanya

Fransiska gy berby

Ingin kuliah, ingin mencoba

Ternyata,

Banyak hal yang tak kuketahui

Realita tak sesuai ekspetasi

Katanya, kuliah enak dan asik

Katanya, kuliah menyenangkan

Katanya, kuliah itu masa depan

Katanya, dengan kuliah kita mudah menncari kerja

Kataya, katanya, katanya

Nyatanya, lelah, letih, lesu

Semua berkumpul jadi satu

Menjadi kacau, mulai menyerah

Tapi, keringat orang tua yang sudah membasahi bajunya

Membuatku kuat dan semangat menjalani sesuai prosesnya

Keinginan menyerah kupikir duakali

Untuk derajat keluarga, agar tak hina dihadapan tetangga.

(Fransiska Gy Berby/Katanya dan Nyatanya/Medan)

Tidak Memiliki

Fransiska gy berby

Kamu bukan prioritasnya

Dia punya banyak mayoritas

Kamu bukan satu-satunya

Kamu hanya salah satunya

Kamu selalu ada saat dia butuh kamu

Saat kamu butuh dia, dia bersama yang lain

Perasaan yang kamu rasa tidak sama dengan yang dia rasa

Cinta yang kamu anggap hanya dinggap teman

Ingat,

Perbuatan baik tidak dibalas dengan baik

Perbuatan jahat belum tentu dibalas dengan jahat pula

Kamu mencintainya?

Kamu menyukainya?

Kamu ingin memilikinya?

Percuma kalau hatinya bukan buat mu.

(Fransiska Gy Berby/Tidak Memiliki/Medan)

CENTANG ABU YANG MEMBIRU

FriskaYuriati Purba

Kuayunkan jari-jemariku

Dan menari lentik dilayar ponselku

Ku ukir kata demi kata

Dan membentuk sebuah pesan rindu

Berharap secepatnya tiba di ponselmu

Detik demi detik melaju cepat

Hingga berkali-kali melewati menit

Namun tak kunjung ada balasan

Ku menunggu hingga menit menempuh jam

Bahkan hari demi hari terlewatkan

Namun tetap saja pertanda dari mu seakan membisu

Aku merindu, jauh sebelum kala itu

Berharap tahu akan kabarmu

Namun kecewa membara di dada

Pesan ku tak kunjung ada balasan

Hanya sebatas centang abu yang membiru

(FriskaYuriati Purba/Centang Abu Yang Membiru/Doloksanggul)

Tersadar

Henry Adi Nugroho

Cahaya sang  bulan perlahan terganti dengan cahaya sang surya

Mata yang  terpejam kini telah terbuka dari bunga tidur

Ku buka jendela ruang persegi sempit, ku sapa luasnya fenomena alam

Selamat pagi, sugeng enjing, good morning, ohayou gozaimasu

Ku hirup udara pagi nan sejuk

Ku pandang cakrawala nan elok

Ku beranjak dari ranjang  dengan sinergi

Ku melangkah perlahan karena aku bukan superhero

Ku tak percaya itu nyata, apa yang terjadi bukan fiktif belaka

Ini semua bukan mimpi atau ilusi atau  fatamorgana atau dunia maya

Aku sadar, aku berdiri di tanah Kota Karismatik

Aku bukan pemberontak, tetapi aku pahlawan muda bagi kotaku

Hai pemuda  Kota Pendekar, mari bangkit

Kita harus sadar, bukan bersandar pada ego dan teori

Kita bukan generasi darah biru, tapi kita generasi milenial

Mari ukir sejarah dan kenangan indah di Kota Pecel tercinta

 (Henry Adi Nugroho/Tersadar/Madium)

Jiwa Penyeka Nafsu

Herlina Christin Leonardy

Jatuhku kan datang Kau kuatkan

PintahMu jawaban tiap duka

JamahMu hapuskan luka-luka

Jiwaku setia kau papah

Hatiku kiat kau tempa

Mata mengadah ke altarMu

Mengucap bait-bait syukurku

Bersujud terpanah bara kasihMu

Engkaulah jiwa penyeka nafsu

(Herlina Christin Leonardy/Jiwa Penyeka Nafsu/Medan)

Di Tengah Api

Herlina Christin Leonardy

Di tengah api, terlihat diam ia fasih bergumam

diam menunduk tak bergerak

menunggu angin dan hujan menyapa

Di tengah api, dia ingin menyudah

Berharap panasnya kabut menghilang

Merasakan belaian laut yang megah

Di tengah api, berkecambuk rindu kian membara

Rindu menghirup udara penepis dahaga

Menanti hangatnya fajar yang menyapa

(Herlina Christin Leonardy/Di Tengah Api/Medan)

Nada Napasmu

Herlina Christin Leonardy

Di kabin mimpi, ku diam terhanyut

Mengingat indahnya melodi tuturmu

Garis bibirmu mengukir rindu jiwaku

Hantarkan sukma ke laut syahdu

Menjerit aku di serambi jiwa

Teracun irama detak nadimu

Kugores dawat melukis napasmu

Berharap menjadi rindu di liku langkahmu

(Herlina Christin Leonardy/Nada Napasmu/Medan)

Lautku yang Tenang

Herlina Christin Leonardy

Wangi birumu sejukan kepengapan

Usapan pantaimu membelai lamunan

Angin berbisik hantarkan kelegaan

Sembari camar menghiasi awan

Duduk bersama mu ciptakan adiwarna

Hiasi mata hingga terjaga

Sunggu indah kau terpandang

Membawa hati lupakan gamang

(Herlina Christin Leonardy/Lautku Yang Tenang/Medan)

Menunggu

 Josua Hasugian

Berfikir antara lanjut atau mundur

Dengan pikiran yang terjebak masa lalu

Sedangkan hati sejatinya menaruh harapan

Untuk mencari cita sedari dulu

Ketika fajar selalu datang diwaktu yang sama

Ketika jam menunjuk kearah selatan

Disaat itu selalu termenung mencari jati diri

Mencari siapa yang harusnya ada dalam diri

Hati ini selalu memohon kepada Sang Pencipta

Memohon diberi jalan untuk melangkah

Agar dapat bertemu

Dengan apa yang selama ini aku tunggu

(Josua Hasugian/Menunggu/Medan)

SADARLAH

Josua Rifaldo pasaribu

Sadarlah wahai saudaraku

Lihatlah sekelilingmu ini

Semuanya sudah tampak tua

Hamparan birunya laut sudah memudar

Udara segara mejadi polusi

Itu semua karena ulahku dan ulahmu

Tidak adakah penyesalan bagimu?

Mari jagalah bumi kita ini.

(Josua Rifaldo Pasaribu/Sadarlah/Medan)

Virus Corona

Josua Rifaldo Pasaribu

Jangan kamu anggap remeh

Oleh apa yang terjadi saat ini

Satukan tekad dan semangat yang optimis

Untuk kita berjuang bersama-sama

Adakah itu dalam dirimu?

Pastikan kamu hidup sehat dan  bersih

Awali dengan mencuci tangan

Selalu gunakan masker saat di luar rumah

Apakah kamu tetap melanggarnya?

Rencana ini bukan untuk mereka

Ini semuanya untuk menyelamatkan kita

Bahkan  mereka mengorbankan jiwa raga mereka

Untuk aku dan kamu aman dari virus corona.

(Josua Rifaldo Pasaribu/Virus Corona/Medan)

Ibu

Jungjungan  Ringo

Dalam hujan kau memberiku sebuah
kehangatan….Saat saya terpuruk di dalam penyesalan kau datang bersama
dengan sejuta senyuman
kau datang memberiku sebuah kehangatan..

Izinkan saya untuk membalas jasa-jasa mu ini ..
Walau letih……ku kan tetap gigih
Walau sulit…..ku kan tetap bangkit
Bangkit dari penyesalan
Bangkit dari kegagalan
untuk sebuah HARAPAN
untuk sebuah MASA DEPAN

Bait demi bait kutulis cerita tentangmu
yang sudah menjagaku
Dari gelapnya Dunia ini
kau bagaikan PELITA yang menerangi gelapny Dunia ini….

Dan kau bagaikan air yang memadamkan
Amarahku
Laksana api membakar jiwaku,
Air mu yang menyesahkan jiwaku
Api mu yang memberiku motivasi baru.
semangat untuk tetap BERTAHANB
semangat untuk SEBUAH IMPIAN

(Junjungan Ringo/Ibu)

Mengejarmu Dalam Dunia  Ilusi

Kornelia A.R Tampubolon

Senjaku merenung sepi

Antara ada dan tiada

Terpisah antara nyata dan fana

Senyuman itu slalu menghampiri benatku

Bayanganmu menyapaku

Senyumanmu terukir dalam benatku

Pandangan sedumu mendamaikan ku

Dalam hati aku bertanya  Ini ilusi atau nyata

Aku terjebak lagi dalam khayalanku

Setiap bayanganmu menghampiriku

Dan kini tentang mu

Mimpiku lebih indah dari duniaku

Kucoba bangkit meskipun sulit

Karna aku tau semesta

 punya cara untuk menyatukan dan memisahkan insanya

(Kornelia A.R. Tampubolon/Mengejarmu Dalam Dunia Ilusi/Medan)

PAHLAWAN ITU BERNAMA GURU HONORER

 Muhamad Arby Hariawan

Pahlawan itu bernama guru honorer. Penghayat sejati konstitusi,

mengabdikan diri mencerdaskan anak negeri. Malang gajinya dikebiri.

Dari tabah ajarnya lahir menteri, bupati, dan berbagai petinggi negeri.

Namun sayang hidup layak padanya sekadar basa-basi.

Dari tapal batas hingga rimba tak berbatas, desa hingga kota,

pahlawan itu tiada jemu menderma ilmu kepada anak bangsa.

Pita suaranya digunakan untuk mendidik bukan mengamuk

menuntut upah naik. Telaten disuapinya kepada tunas bangsa:

Pancasila, Eksakta, Agama, Humaniora, Seni, dan Sosial.

Pahlawan itu bernama guru honorer. Khusyuk menjadikan

insan muda agar menjelma manusia Indonesia yang luhur budi

dan berilmu tinggi. Sayang negeri ini tak peduli.

(Muhamad Arby Hariawan/Pahlawan Itu Bernama Guru Honorer/Bengkulu)

Usikan Kalbu

Mustika

Ku ingin temu muka

Kunanar tuk berlepas hati merindumu

Kerumpilan mempertalikan tali rasa di kalbu

Aku serasa bayang-bayang

Kerinduanku padamu, membikinku gelebah

Mengeruhkan sanubari relasi ke benak kepala

Gundah gulana menjadi kalbu, Aku mengangenimu!

Kapan rinduku terobati?

Kubunuh kerinduanku hingga usikan di kalbuku tak kelewat batas

Kendati detikan kalbu meramu air payau

Ku tak ingin mengaramkan kerinduan hingga terhempas lubuk hati

Melarut dalam ombak pikiran nan awet

Tuhan, Ku ingin lega dada!

Melapangi kerinduan padanya

Mendeskripsikan gelak senyum, Dari serpihan kerinduan pembalas

(Mustika Aan/Usikan Kalbu/Makasar)

Jarak

Nabila Hasna

Jarak kadang hebat

Meyakinkan yang tak dekat

Menciptakan rindu

Mengajarkan makna menghargai waktu

Rindu tak akan tercipta,

Tanpa ada jarak

Jarak selalu memberi peringatan

Agar selalu menghargainya,

Bukan malah menyalahkannya

Jarak mengajarkan banyak hal,

Tanpa kau sadar

Banyak yang membencinya

Tapi dalam sisi lain,

Justru ia yang menciptakan,

Apa arti menghargai,

Selagi jarak tak mempengaruhi.

(Nabila Hasna/Jarak/Bekasi)

Mari Berbagi Cerita Tentang Tirani

Nailah Latukau

Dini hari hujan, Bung.

Lampu seluruh kota mati.

Tak ada yang bisa diajak berbincang, Bung.

Aku ingin tertawa  dan berbagi lara.

Bung, Mari kita berbagi cerita

Dengan janji, Jika siapa yang melanggar sumpah

Sumpah akan membunuh dia,

Tuanku akan murka dengannya.

Bung, Mari berbagi cerita

Tentang Perampasan Ruang Hidup

Yang dialami saudara kita,

Marhaenis dengan tirani.

Bung,

Mari berbagi cerita

Tentang Tuan-tuan

yang berlaku seolah-olah mereka Tuhan.

(Nailah Latukau/Mari Berbagi Cerita Tentang Tirani/Ambon)

Duri Ilalang
Nurul Insan

Adakah yang lebih sakit dari tertusuk duri?
melebihi tajamnya kata yang menusuk hati,
hingga kesucian cinta yang terjaga,
patah terluka dengan derai bersimbah duka.

Tak ingatkah dengan janji yang dulu terucap indah ?
putih cinta kutanam, kini patah tak terkenang,
tertusuk duri penghianatan yang kau tancap dalam-dalam.

Adakah kau merasa?
kalau hati kita sama-sama merah,
punya rasa yang sama, suatu ketika sama-sama bisa terluka,
namun, keputusanmu yang tanpa alasan,
telah menusukku tajam, bak duri ilalang di pinggir jalan.

Kini, biarlah aku terluka oleh duri yang kau tancap sendiri,
namun, belati karma Tuhan jauh lebih tajam yang akan kau tuaikan,
karena sekali saja durimu membuat luka,
selamanya akan patah terinjak tak bernyawa.

(Nurul Insan/Duri Ilalang/Bengkulu)

DEMI YANG HAKIKI

Putri elisabet damanik

Tertatih melangkah dalam balutan senja

Hilang asa menghadapi dunia

Hanyut ditelan duka derita

Berat sungguh berat

Siapa yang sempat takut tak akan dapat tempat

Aku adalah pejalan takdir duniawi

Meredam mimpi demi yang hakiki

Tiada lidah bohongi nurani

Esok pagi adalah bukti

Mulailah untuk menjadi akhir

Akhirilah untuk memulai yang baru

Dengan tujuan yang pasti

Akan sebuah gapaian yang indah nanti

(Putri Elisabet Damanik/Demi Yang Hakiki/Medan)

Tuhan di mata awak

Richie Tjipto

Ibu acap berceloteh Tuhan itu iktibar pandai tenun

Menebak rencana-Nya dari bentala bak wong rabun

Rancangan-Nya tak mampu ditebak buat tertegun

Beriktikadlah arahnya buatmu subur turun-temurun

Waktu kanak-kanak kerap ku tanya awak bunda

Mengapa lain orang punya maslahat nan beda

Kesenjangan tabiat nyatanya Tuhan punya sabda

Lantaran itu sembahyang minta diatas nan pertanda

Akil-balig awak persoalkan lagi berlipat soal

Mengapa lain orang punya mujur rezeki finansial

Kesenjangan banda nyatanya Tuhan punya ihwal

Lantaran itu sembahyang minta diatas nan setimpal

Sampai waktu dimana cakap bunda terasa hambar

Mengapa lain orang tampak bahagia terbahak lebar

Gundah-lara nyatanya diatur Tuhan sekadar

Lantaran itu sembahyang minta kaidah nan benar

(Richie Tjipto/Tuhan di Mata Awak/Jakarta)

Apakah

Rohani Sianturi

Apakah yang engkau rasakan?

Apakah yang  engkau perbuat?

Apakah yang ada  dipikiranmu?

Apakah kamu bahagia?

Apakah kamu mengalami hal-hal yang menyenangkan?

Apakah kamu puas akan kehidupanmu?

Apakah kamu menyalahkan dirimu atau menyalahkan orang lain?

Apakah menurutmu kehidupan ini adil?

Apakah Dunia ini sudah adil terhadap kehidupanmu?

Apakah kamu akan berdiam diri saja?

Apakah kamu akan bertindak,dan bangkit?

Atau kamu memilih diam?

Cukup, cukup ,sudah cukup

Kamu merasakan dan mempertanyakan ini pada dirimu

Berhenti pura-pura bahagia,Berhenti bersandiwara

Bangkit dan raih bendera kemenangan

(Rohani Sianturi/Apakah/Lampung)

Aku, Kau dan Rasaku

Romian Sidabutar

Aku sadar aku bukanlah hujan untuk kemaraumu

Bukanlah dermaga untukmu berlabuh

Bukan pula semi untuk musim gugurmu

Aku hanya sicandu yang bercerita tentangmu pada secarik kertas lusuh

Yang tertata dibawah pena bertinta biru

Aku memang sibodoh yang terlalu berani mencinta

Yang sangat fasih meluluhkan hati lewat tulisan kata-kata

Namun terlalu pecundang mengungkap rasa lewat suara

Dan tetap saja

Seberapa indahpun puisi yang kucipta

Aku tetaplah hanya seseorang yang tak mampu mewujudkan cinta.

(Romian Sidabutar/Aku, Kau dan Rasaku/Jepara)

Amplop Coklat Masam

Septian Yuwandis Amir

Ayah ternyata cenayang! Ia bawa sekeranjang buah jeruk masam

Yang serupa dengan muka kami setelah terima amplop coklat

Lembar-lembar merah yang figurnya tersenyum berserak

Bertumpuk dengan lembar biru-hijau yang tertawa pada

Muka kami yang tertekuk lesu

Tak bisakah kau menunjukkan gigi dengan sedikit lapang di hati?

“Tak sudi! Mana kawanmu? Mestinya ada tiga puluh kawanmu datang lagi! Hendak sembunyi kemana?”

Setelahnya, kisah pada telenovela mengalur

Yang peran dua-nya tak akur

Piring berhambur, pekik amarah tersembur, leleh tangis mengucur

Bapa marah bilang ini sudah prosedur

Ah! Ini cuma hasil kerja rodi yang katanya abdi!

Persetan dengan ini! Kembalikan senyum kami!!

(Septian Yuwandis Amir/Amplop Coklat Masam/Jember)

Covid Bukan Kopi

Yumrotul Khasanah

Nama mungil yang menyelimuti bumi

Tubuh kecil,kasat mata menjadi perbincangan tiap hari

Menyerbu ramah setiap ciptaan sang kuasa

Isak tangis gemuruh memendam

Kalimat mati menembus lubuk sukma

Di indonesia,tempat kami berteduh.

Hastag dirumah saja,

Menjadi polemik yang harus dilaksanakan

Namun sayang,

Kabar palsu masih terus berjalan

Resah gundah makin membakar penuh nyawa

Penyangga kekuasaan sampai kualahan

Arah mana yang harus dijalankan

Lockdown atau tes masal?

Social distancing atau cuci tangan?

Tak hanya satu tapi semua sedang di optimalkan.

Jaga diri baik-baik karna dunia sedang merintih kesakitan.

(Yumrotul Khasanah/Covid Bukan Kopi/Wonosobo)

Dunia Dalam Bingkai Corona

Yuni Astria Sitepu

Kosong melompong hiasi jejalanan kota

tiada lagi keramaian tiada lagi kebisingan

hanya bangunan megah tanpa penghuninya

bertemankan dedaunan pohon berlambaian

Hadirnya membawa kabar duka dan kengerian

kala sirine berteriak-teriak tentang kematian

hadirnya bak tembok penghalang kehidupan

kala virus mematikan meggerogoti jiwa badan

Tanah menganga seolah lapar menghajarnya

menanti diisi bangkai manusia yang termatikan

tiada kemegahan kematian seperti biasanya

hanya isak terdekat serta bunga baru bertaburan

Corona bak petir yang siap menyambar sabar

menebar kecewa dan takut untuk jaya bersahaja

adanya siap mencabut nyawa yang tak sadar

adanya memaksa rindu ditabung sampai tiada

(Yuni Astria Sitepu/Dunia Dalam Bingkai Corona)

Nostalgia Badai Corona

Yuni Astria Sitepu

Kubayangkan engkau sudah tiada lagi

bangkaimu kukubur di tanah terdalam

kubabakar sampai mendebu sejadi-jadi

demi mematikan kenang yang terkelam

Sadisya aksimu mencabut nyawa manusia

tak sejahat kami yang menolak dikarantina

cerdasnya caramu membunuh manusia

tak sebodoh kami yang tak peduli adanya

Hadirmu malah menyesakkan rindu di dada

adamu kini sepikan keramaian gereja-gereja

hadirmu biasakan beribadah di rumah saja

adamu menobatkan jiwa pada Yang Kuasa

Tegamu hadir ke bumi kami ialah petanda

betapa percumanya hidup tanpa kebajikan

durhakalah bila waktu itu menjadi sia-sia

bahagialah bila baikmu pelita untuk bertahan

(Yuni Astria Sitepu/Nostalgia Badai Corona)

Petani

 Zaskia Dian

Aku terbangun di kala fajar datang menyapaku

Aku mendengar suara kicauan burung bernyanyi

Mendengar sahut-sahutan tetangga yang saling menyapa

Pun mendengar suara ibu menyuruhku untuk joging

Aku berlari kecil seraya bernyanyi

Melewati hamparan sawah yang luas membentang

Dan lihatlah petani-petani itu

Kala ini masih sangat pagi namun mereka telah bekerja

Mereka sungguh luar biasa

Menahan rasa kantuk di pagi hari

Demi mencukupi kebutuhan keluarganya

Dan membahagiakan istri serta anak-anaknya

(Zaskia Dian/Petani/Probolinggo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *