Latar Dunia di Tahun 2050-an

Latar Dunia di Tahun 2050-an

JIKA sekadar membaca sinopsisnya yang hanya sepuluh kata, kita mungkin akan mengira bahwa novel Hujan karya Tere Liye ini adalah karya fiksi dengan latar kehidupan sehari-hari. Tetapi tidak. Novel Hujan secara mengejutkan mengambil latar dunia di tahun 2050-an, dengan segala kemajuan teknologi dan gentingnya isu-isu mengenai lingkungan.

Cerita dimulai dari pertemuan Lail dan Elijah di sebuah ruangan terapi (ruang operasi saraf otak, lebih tepatnya) yang dideskripsikan memiliki atmosfer nan futuristik. Lail, dengan sesak dan tangis yang tertahan, menemui Elijah sang fasiltator terapi untuk satu tujuan: ingin menghapus ingatannya tentang hujan.

Novel setebal 320 halaman ini cukup ringan dengan alur bercerita yang sangat mengalir sehingga dapat diselesaikan dalam beberapa jam saja. Penceritaan interaksi Lail dan Esok, serta beberapa tokoh sentral lain seperti Maryam sang sahabat, Ibu Suri pengurus panti sosial, maupun Bapak dan Ibu Walikota, terasa sangat alami sehingga saya betah untuk terus mengikuti. Beberapa adegan yang terasa sinematik memang mengingatkan saya kepada beberapa judul film Hollywood yang mengambil tema akhir dunia.

Kisah romansa Esok-Lail yang sangat bersimpulan dengan isu-isu penting dunia berhasil dibawakan dengan apik, terkupas satu per satu dengan ritme yang tepat. Membuat pembaca ikut berdegup, untuk kemudian lega, untuk kemudian kembali menjadi semakin khawatir. Khawatir jika kondisi bumi dalam cerita tersebut menjadi lebih buruk lagi. Khawatir jika Esok dan Lail akan seperti arti namanya: pagi dan malam. Tak pernah bersama.(Linah Siregar/gramedia.tumblr.com)

Judul Buku      : Hujan

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Januari 2016

Tebal               : 320 halaman

Ukuran            : 13.5 x 20 cm

ISBN               : 978-602-03-2478-4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *